Kepadamu yang pernah mengisi sudut
hati,
Nada-nada pasrah dari kisah kita
akhirnya menyerah. Katanya kita terlalu cepat mengakhiri sesuatu yang belum
pantas berakhir, mereka tak ingin lagi mangkir dari garis takdir. Jika dulu
kita lelah melanjutkan kisah, kini kita lelah berpisah. Saat ego mengijinkan
kita terpisah, rasa yang dulu tersembunyi oleh gengsi bahwa kita masih saling
mengingini kini semakin bertambah. Aku percaya, hadirnya jurang pemisah bukan
tanpa suatu tujuan yang tidak beralasan. Itu mungkin hanya jeda yang melatih
hati agar semakin dewasa. Agar kita sama-sama menjadi pemerhati yang peduli
akan kondisi hati. Agar kita tahu seberapa besar cinta yang tersembunyi selama
ini. Agar kita tahu selama apa hati telah absen mengungkapkan opininya sendiri.
Sudah tidak perlu aku suarakan pada
dunia bagaimana jelasnya perasaanku. Mereka terlalu peka untuk paham, bahkan
syaraf otakku telah sukses mengalahkan konspirasi semesta untuk selalu
mengingatkanku apa yang sedang kurasa.
Kepadamu yang pernah menjadikanku
satu-satunya,
Iya, pernah. Sekarang tidak lagi.
Aku tidak ingin kamu paham bagaimana perasaanku. Memang sepertinya Tuhan
memilihku untuk menjadi pihak yang paling tersakiti diantara segitiga ini.
Kamu, aku dan dia. Entah aku yang ketiga atau dia yang ketiga. Perihal itu
sudah tak berarti lagi bagiku.
Tak perlu jadi yang paling pintar
untuk tahu bahwa kenyataan tak selamanya sesuai harapan. Kita yang semula sulit
terpisahkan, kini bertolak belakang. Dulu, kamu hanya ingin denganku, aku juga
hanya ingin denganmu. Tapi ternyata hanya keinginanku yang terus bertahan
seperti itu.
Dari hati yang terdalam, izinkan
aku mengucap maaf. Maaf, aku terlanjur mencintamu begitu dalam. Maaf, aku
merasa memilikimu, dan masih ingin begitu hingga sekarang. Maaf, tak seperti
kamu, aku gagal menerima keadaan bahwa kita sudah tak sejalan.
Entah siapa yang semestinya
kusalahkan; ekspektasi yang ketinggian, atau semesta yang terlalu terlambat
untuk menyadarkan. Aku butuh lebih dari sekadar waktu, untuk memahami bahwa
kita sudah tidak seperti dulu lagi. Untuk memaklumi, bahwa hubungan kita sudah
tidak seakrab dulu lagi. Untuk mengerti, bahwa aku sudah tidak seberarti dulu
lagi. Khayal masih menerbangkanku begitu tinggi, tanpa kusadari bahwa sepasang
tanganmu tak ada untuk menangkapku nanti.
Sungguh, aku turut bahagia jika
kamu baik-baik saja. Namun apakah kamu tahu bahwa ‘telah terganti’ ialah
tamparan keras bagi hati?
Kuharap kamu pernah mengajariku
agar mengerti bahwa kelak posisiku akan terisi. Agar bisa kuterima bahwa bukan
lagi aku yang kamu butuhkan saat ini.
Lalu aku bisa apa? Sementara luka
kujahit sendiri, kamu di sana sudah tak lagi ambil peduli. Andai sedikit saja
kamu mau menoleh lagi, lihat aku. Masih di sini, masih membuka hati, masih
menganggap kamu lebih dari berarti.
Perubahan ini terjadi tanpa
persiapan, kesadaran ini datang tanpa keberadaanmu. Maaf, bila yang kubutuhkan
masihlah kamu di saat kamu sama sekali tidak. Kini, izinkan aku untuk membenahi
lagi serpihan-serpihan yang masih berbentuk retakan. Sementara kamu, pergilah
dengan sepasang tangan yang kausebut kebahagiaan.
Aku di sini, akan belajar merelakan
posisi yang sudah terganti.







0 komentar:
Posting Komentar